KLASIFIKASI JAMUR

KLASIFIKASI 
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif. 

Jamur dibagi menjadi 6 divisi yaitu : 

1. Myxomycotina (Jamur lendir) 

Myxomycotyna meliputi organisme yang tidak mengandung klorofil, yang filogenetik tergolong ke dalam organisme yang sangat sederhana. Dalam keadaan vegetatif tubuhnya berupa massa protoplasma telanjang yang bergerak sebagai amoeba yang disebut Plasmodium dengan cara-cara hidup sebagai saprofit atau seperti hewan. Plasmodium terjadi karena satu perkawinan (peristiwa seksual), dan kemudian akan membentuk suatu sporangium yang berdinding. Sporangium menghasilkan spora yang tidak memperlihatkan perbedaan jenis kelaminnya. 

Spora myxomycotina berkecambah dalam air atau diatas suatu substrat basah menjadi satu atau beberapa sel kembar yang di namakan miksoflagelata. Miksoflagelata ini pada bagian muka mempunyai satu inti atau satu bulu cambuk, biasanya dua dan dan heterokon. Pada bagian belakang terdapat vakuola berdenyut, tetapi kromatofora tidak ada. Hidupnya sebagai saprofit, dapat mengambil zat makanan yang bersifat cair maupun padat. Setelah beberapa waktu, bulu cambuknya lenyap dan miksoflagelata ini berubah menjadi miksoameba. Miksoflagellata dan miksoameba dapat membiak vegetative dengan pembelahan. Pembiakan generatifpun terjadi. Dua miksoameba atau dua miksoflagellata dapat mengadakan perkawinan menjadi amebozigot, dan dalam amebozigot ini kedua intinya akhirnyapun akan bersatu. Badan yang diploid ini tidak lalu membentuk dinding, melainkan tetap telanjang dan bersifat ameboid, dan dengan sesamanya dapat bersatu menjadi plasmodium yang besar dan mempunyai banyak inti. Inti dapat bertambah banyak karena adanya mitosis yang berulang-ulang. 
KLASIFIKASI JAMUR
KLASIFIKASI JAMUR
Plasmodium ini tidak pernah membentuk sekat-sekat, jadi hanya merupakan kumpulan protoplas yang menjadi satu. Organisme ini dapat dipelihara di atas agar-agar dan makannya dapat berupa bakteri, miselium jamur, potongan agar-agar, bahkan dapat juga mengambil miksoameba haploid sebagai makannya. Makanan ini dicernakan dalam vakuolanya. Dapat pula organisme ini mengeluarkan enzim yang melarutkan substratnya dan mengambil makannya dalam bentuk larutan. Dari yang bersifat saprofit dapat dibuat biakan murni. Yang hidup sebagai parasit hanya hidup dengan tambahan makan yang berupa makhluk hidup. Zat makanan bukan tepung, tetapi glikogen myxomycotina suka hidup di tanah-tanah hutan, diatas daun yang telah runtuh, dalam kayu yang lapuk, dan dengan perubahan tubuhnya yang merayap kemana-mana. Bagian depan terdiri atas plasma yang lebih pekat, kebelakang membentuk benang-benang. Organisme Ini bergerak ketempat makan dibawa pengaruh gaya-gaya kemotaksis, hidrotaksis dan fototaksis negatif. Plasmodium ini dapat mencapai ukuran garis tengah 0-30 cm, misalnya pada fuligo varians = Aethalium septicum. 

Pada plasmodium terbentuk sporangium yang disebut tubuh buah. Untuk keperluan ini plasmodium lalu mempunyai sifat yang berlawanan dengan biasanya. Mereka lalu meninggalkan tempat yang basah merayap menuju cahaya, dan dengan menurunkan kadar airnya kemudian berubah menjadi beberapa tubuh buah, yang masing-masing diselubungi oleh selaput kaku karena mengandung kapur, dan dinamakan peridium. Didalamnya terdapat banyak spora kecil yang mempunyai membrane. Membran (dinding) spora itu, tidak seperti jamur umumnya, terdiri atas kitin, tetapi tediri atas substansi menyerupai putih telur yang dinamakan keratin, dan disamping itu juga terdapat selulosa. Spora terjadi karena pembelahan reduksi, dan oleh karena itu bersifat haploid. Miksoflagellata dan miksoameba yang tidak mengadakan kopulasi juga bersifat haploid. Badan buah dan plasmodium bersifat diploid. 

Pada beberapa marga didalam badan buahnya dibentuk kapilitium yang terdiri dari bulu-bulu kecil yang bebas atau tersusun seperti jala atau terdiri atas serabut-serabut yang muncul dari plasma yang terdapat diantara spora. Jika sporangium telah masak, teridium lalu pecah dan spora akan terhembus keluar dari dalam jala kapilitium tadi. Pada beberapa jenis myxomicotina kapilitium memperlihatkan gerakan-gerakan hidroskopik. 

Bentuk dan susunan, sifat, dan warna sporangium merupakan dasar untuk membedakan myxomicotina dalam takson lebih kecil. pada fuligo varians beberpa sporangium merupakan satu badan buah yang berwarna pirang dan dapat mempunyai diameter sampai beberapa sentimeter. 

Pada Dictyostelium mucoroides miksoameba yang terkumpul tidak menjadi zigot, tetapi hanya merupakan suatu pseudoplasmodium dengan tubuh buah, yang tiap sporanya berasal dari suatu miksoameba. 

Myxomycotyna, yang secara filogenetik amat rendah tingkatnya itu, jika di tinjau dari sudut sel kembar dan miksoameba menunjukkan hubungan kekerabatan dengan Flagellatae yang tidak berwarna, atau sangat boleh jadi lebih dekat dengan Rhizopoda dari dunia hewan. pertimbangan-pertimbangan itu yang di jadikan alas an untuk menyatakan bahwa Myxomycotyna adalah suatu mahkluk peliharaan ynag terletak antara hewan dan tumbuhan. 

Seperti Volvocales dan Euglenales (Flagellatae) yang oleh bahli-ahli zoology dianggap pula sebagai hewan, demikian pula halnya dengan Mycomycotyna. Dalam dunia hewan kelompok mahkluk hidup ini dikenal pula dengan nama Mycetozoa. 

Selain posisi yang tidak pasti itu, klasifikasi Mycomycotyna sendiri belum mantap. Contoh-contoh yang disebut diatas masing-masing mewakili kelompok Plasmodiumnya merupakan suatu agregat saja dari sejumlah sel-sel telanjang (Dtyostelium mucoroidas). 

Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana. Mempunyai 2 fase hidup, yaitu: 

· Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amoeba, disebut plasmodium. 
· Fase tubuh buah Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata. 

Kingdom : Amoebozoa 
Phylum : Mycetozoa 
Class : Dictyostelia 
Order : Dictyosteliida 
Family : Dictyosteliidae 
Genus : Dictyostelium 
Species : D. discoideum 


2. Oomycotina 

Hifa pada jamur ini bersifat senositik, yaitu tidak bersekat-sekat sehingga inti sel banyak tersebar di dalam protoplasma. Dinding selnya tersusun atas selulosa, hal inilah yang membedakan dengan golongan jamur lainnya. Pertumbuhan hifa jamur terjadi pada bagian ujungnya yang menghasilkan beberapa percabangan. Pada akhir ujung percabangan itu terbentuk gelembung sporangium yang dipisahkan oleh sekat. Hal ini merupakan awal perkembangbiakan jamur secara tidak kawin (aseksual). 

Dalam sporangium terdapat protoplasma yang banyak mengandung inti sel. Protoplasma akan terbagi-bagi dan setiap bagian memperoleh satu inti sel yang berkembang menjadi spora dengan dua flagel sebagai alat geraknya. Spora yang mempunyai flagel disebut zoospora yang merupakan ciri khas Oomycotina. Selanjutnya, zoospora akan keluar dari sporangium kemudian melepaskan flagelnya sambil membentuk dinding selulosa. Jika zoospora ini sampai di tempat yang sesuai, maka akan menjadi tumbuh hifa baru. 

Ciri-ciri jamur yang termasuk golongan Oomycotina adalah sebagai berikut. 

a. Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak inti. 
b. Reproduksi: 

1) Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia. 

2) Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru. Contoh spesies: Saprolegnia sp. yang hidup saprofit pada bangkai ikan, serangga darat maupun serangga air dan Phytophora infestans yaitu penyebab penyakit busuk pada kentang. 

3) Contoh spesies: Saproglenia

Kingdom : Protista 
Filum : Heterkonta 
Kelas : Oomycotea 
Ordo : Saprolegniales 
Famili : Saprolegniaceae 
Genus : Saprolegnia 
Spesies : S. parasitica
Jenis jamur lainnya yang termasuk Oomycotina adalah Phytophtora sp, dan Phytium sp. 

Saprolegnia sp 
Jamur ini umumnya hidup saprofit. Miseliumnya berkembang di dalam substrat, sedangkan yang terlihat di luar substrat berfungsi untuk perkembangbiakan. Jika Anda amati jamur ini dengan mikroskop, di bagian ujung miseliumnya akan tampak sporangium yang menghasilkan zoospora. 

Saprolegnia sp yang hidup saprofit mudah dikembang-biakkan dengan meletakkan serangga mati atau biji kacang tanah pada cawan berisi air kolam. Hifa yang baru tumbuh akan menembus tubuh serangga atau biji kacang tanah untuk mendapatkan makanan. Sebagian hifa lainnya akan tumbuh keluar membentuk sporangium penghasil zoospora, sedangkan oogonium dan anteridiumnya berperan pada perkembangbiakan seksual. 

Contoh jamur dari Oomycotina lainnya adalah Achlya sp yang hidup saprofit seperti Saprolegnia sp.; Plasmopora sp hidup parasit pada tanaman anggur; serta Sclerospora maydis penyebab penyakit bulai pada jagung seperti pada gambar dibawah ini. 

Phytophtora sp 

Contoh jamur dari golongan Oomycotina ini antara lain: Phytophtora infestans yang hidup parasit pada tanaman kentang. 

Pada jamur ini, ujung-ujung hifa tidak membentuk zoosporangium melainkan membentuk konidium. Konidium adalah spora yang dibentuk secara aseksual dan terjadi akibat diferensiasi dari ujung hifa. Ujung hifa menyembul di permukaan daun kentang melalui stoma (mulut daun) yang terkena infeksi. 


Phytophtora sp tidak hanya menyebabkan penyakit pada tanaman kentang, melainkan dapat pula menyebabkan penyakit pada buah cokelat, tanaman lada, kina, kelapa, cengkeh, tembakau, dan jarak. 

Pythium sp 

Phytium sp hidup saprofit di tanah lembab, tetapi zoospora yang dihasilkannya melalui perkembangbiakan aseksual sedangkan oospora melalui perkembangbiakan seksual. Jamur ini dapat menginfeksi tanaman seperti pada persemaian tem-bakau yang dikenal dengan penyakit patah rebah semai. Jamur ini juga dapat menyebabkan penyakit busuk pada kecambah tembakau, kina, bayam, jahe, nenas, dan kemiri. 

3. Zygomycotina 

Ciri jamur dari kelompok ini adalah hifanya tidak memiliki sekat (septa) sehingga disebut hifa senositik. Kelompok jamur ini diberi nama Zygomycotina karena selama masa reproduksi seksual membentuk spora seksual khusus, yang disebut zigospora. Contoh jamur yang termasuk divisi Zygomycota adalah Rhizopus oligosporus, yaitu jamur yang digunakkan membuat tempe. Jika Anda mengamati jamur R.Oligorpus dengan menggunakkan mikroskop, anda dapat melihat struktur tubuhnya dengan jelas. Lihat gambar 4.13. 

Hifa adalah benang-benang penyusun tubuh jamur. Sebagai anggota Zygomycota, Rhizopus oligosporus dapat berkembangbiak secara aseksual atau secara seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk spora didalam sporangium yang terletak diujung-diujung hifa. Sporangium ditunjang oleh sporangiofor. 

Kerajaan : Fungi 
Divisi : Zygomycota 
Kelas : Zygomycetes 
Ordo : Mucorales 
Famili : Mucoraceae 
Genus : Rhizopus 
Spesies : R. oligosporus 

Sporangium stonifer yang telah tua dan matang biasanya berwarna hitam. Jika telah matang, sporangium akan akan pecah dan menghasilkan banyak spora. Selanjutnya,spora-spora akan keluar dan menyebar dengan bantuan angin. Jika spora itu jatuh pada tempat yang cocok,ia akan tumbuh membentuk hifa baru. Jamur Zygomycotina disebut juga “Jamur kojungsi” dinamakan demikian karena perkembangbiakan secara seksual jamur ini dilakukan dengan cara kojungsi. 

Proses kojungasi terjadi diujung-ujung hifa yang berlainan jenis yaitu hifa (+) atau “hifa jantan” atau hifa (-)atau hifa betina” Hifa-hifa tersebut bersifat haploid (n). Kedua hifa tersebut akan mengalami pembengkakan pemanjangan pada ujungnya. Hifa yang membengkak disebut gametangium (jamak; gametangia), yaitu stuktur atau organ pembentuk gamet. Selanjutnya, kedua gametangium bersatu dan membentuk zigospora yang yang bersifat diploid (2n). Zigospora adalah spora berdinding tebal dan sedang fase istirahat. Karena berdinding tebal, Zigospora tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Zigospora dapat dorman selama beberapa bulan dan akan berkcambah serta tumbuh menjadi hifa-hifa baru jika kondisi lingkungan membaik. Pada saat pertumbuhan hifa, terjadi peristiwa meiosis sehingga hifa bersifat haploid. Selanjutnya ,hifa-hifa tersebut membentuk sporangifor. Diujung sporangiofor terdapat sporangium yang berisi spora. Setelah dihasilkan spora ,akan terjadi proses reproduksi Aseksual. Dari penjelasan diatas, diketahui bahwa pada siklus hidup R. stolonifer, fase haploid lebih panjang daripada fase diploid. 

Anggota Zygomycotina umumnya hidup sebagai saprofit, baik ditanah ataupun disisa-sisa oganisme, misalnya di kayu lapuk. Beberapa jenis Zygomycotina merupakan perasit pada tumbuhan dan serangga. Selain R. oligosporus, contoh lain dari Zygomycota adalah R.oryzae dan mucor. Jamur R.oryzae digunakan dalam fermentasi sake, yaitu minuman khas jepang, sedangkan mucor adalah jamur yang sering tumbuh pada roti. Beberapa jenis mucor merupakan jamur pathogen. 

Adapun untuk ciri-ciri umumnya sebagai berikut: 

a. Tubuh multiseluler. 
b. Habitat umumnya di darat sebagai saprofit. 
c. Hifa tidak bersekat. 
d. Reproduksi: 
1. Vegetatif : dengan spora. 
2. Generatif : dengan konyugasi hifa (+) dengan hlifa (-) akan menghasilkan zigospora yang nantinya akan tumbuh menjadi individu baru. Contoh spesies: Mucor mucedo biasa hidup di kotoran ternak dan roti dan Rhizopus oligosporus atau jamur tempe.

4. Ascomycotina 
Ascomycota merupakan divisi terbesar dalam kingdom fungi. Jumlah anggota mencapai dari 60.000 spesies. Ciri utama dari divisi ascomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut akospora. Akospora terbentuk kedalam kaksus, yaitu suatu tubuh buah khusus yang bentuknya menyerupai mangkuk atau botol. Tidak seperti Zygomycota, Ascomycota memiliki hifa bersekat. Anggota Ascomycota cukup beragam, ada yang bersel satu, misalnya yeast atau ragi (S. cerevisae); ada pula yang bersel banyak, contohnya Penicillium dan ada pula yang membentuk tubuh buah, seperti Netrica dan peziza. Pada umumnya anggota Ascomycotina adalah jamur bersel banyak. Seperti halnya Zygomycota, Ascomycota bersel banyak, reproduksi aseksual dilakukan dengan cara membentuk konidiospora atau sering disebut konidia (tunggal: konidium) saja (Lihat gambar 4.16). Konidia terbentuk pada ujung hifa khusus yang tumbuh tegak, yang disebut konidofor. Warna dari konidia bermacam-macam, ada yang hitam, merah, biru, dan hijau, bergantung pada jenis jamurnya. Konidia yang telah masak, apabila jatuh pada tempat yang cocok akan tumbuh menjadi hifa baru. Sementara itu, reproduksi aseksual pada Ascomycota bersel satu dilakukan dengan cara membentuk tunas (budding). Tunas yang telah masak akan terlepas dari sel induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual pada Ascomycota terjadi dengan cara membentuk askospora. Akospora dalah spora seksual yang terbentuk di dalam aksus. Aksus terdapat didalam badan buah yang disebut askokarp. 

Pada Ascomycota ada dua jenis hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Hifa (+) membentuk alat kelamin jantan (anteredium) dan hifa(-) membentuk alat kelamin betina (askogonium). Kedua jenis alat kelamin tersebut bertemu dan terjadi plasmogami (penyatuan sitoplasma) tanpa disertai penyatuan inti. .Jadi,dalam peristiwa tersebut akan terbentuk sel dengan dua inti Askogonium yang telah meiliki dua inti tersebut akan menghasilkan hifa-hifa askogonium yang dikariotika (berinti dua). Hifa dikariotika itu bercabang-cabang membentuk tubuh buah yang disebut askokarp. Semetara itu, ujung hifa dikariotika akan membentuk sel khusus yang akan menjadi askus. Didalam aksus akan terjadi perleburan dua inti (diploid/2n). Selanjutnya, inti askus membelah dua kali. Pembelahan pertama terjadi secara meiosis dan menghasilkan empat sel. Pembelahan kedua terjadi secara mitosis sehingga akhirnya terbentuk delapan akspora didalam aksus tersebut. Tubuh buah (askokarp) yang terbentuk memiliki bentuk bermacam-macam dan merupakan dasar klasifikasi dari ascomycota.bentuk-bentuk badan buah tersebut, antara lain kleistotesium, peritesium, apotesium, dan aksus telanjang. 

a. Kleistotesium : berbentuk bulat tertutup,merupakan ciri dari kelas Plectomycetes. 
b. Peritesium : berbentuk botol ,merupakan ciri dari kelas Pyrenomycetes. 
c. Apotesium : berbentuk cawan,merupakan ciri dari kelas Discomycetes. 
d. Akus telanjang : tidak membentuk badan buah,merupakan cirri dari kelas Protoascomycetes. 

Salah satu contohnya adalah Sacharomyces cerevisae sehari-hari dikenal sebagai ragi. Berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol. Mampu mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan proses fermentasi. 

Kingdom : Fungi 
Phylum : Ascomycota 
Class : Saccharomycetes 
Order : Saccharomycetales 
Family : Saccharomycetaceae 
Genus : Saccharomyces 
Species : S. cerevisiae 

Berikut ciri-ciri umum dari Ascomycota : 

a. Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Ascomycotina multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak. 

b. Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak). 

c. Reproduksi: 
1. Vegetatif : pada jamur uniseluler membentuk tunas-tunas, pada yang multiseluler membentuk spora dari konidia. 
2. Generatif: Membentuk askus yang menghasilkan askospora. 

d. Contoh spesies lainnya: 
1. Neurospora sitophila: jamur oncom. 
2. Peniciliium noJaJum dan Penicillium chrysogenum penghasil antibiotika penisilin. 
3. Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti berguna untuk mengharumkan keju. 
4. Aspergillus oryzae: untuk membuat sake dan kecap. 
5. Aspergillus wentii: untuk membuat kecap 
6. Aspergillus flavus: menghasilkan racun aflatoksin Þ hidup pada biji-bijian. flatoksin salah satu penyebab kanker hati. 
7. Claviceps purpurea: hidup sebagai parasit pada bakal buah Gramineae. 


5. Basidiomycotina 
Ciri utama dari jamur yang termasuk dalam divisi Basidiomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut basidiospora. Basidiospora terbentuk pada bagian yang disebut basidium. Divisi ini memiliki angota lebuh dari 25.000 species. Basidiomyta merupakan kelompok jamur yang perkembanganya paling tinggi diantara kelompok jamur lainnya. Ciri lainnya adalah mampu membentuk tubuh buah yang makrokopis sehingga sangat mudah dilihat. Jamur-jamur anggota Basidiomycota dapat dijumpai pada tanah, pohon yang lapuk atau jerami di musim hujan. Bentuk dan warnanya juga bermacam-macam. 

Beberapa jenis sudah dibudayakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan. Contohnya Volvariella volvacea atau jamur merang, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan. 

Kingdom : Fungi 
Division : Basidiomycota 
Class : Agaricomycetes 
Order : Agaricales 
Family : Pluteaceae 
Genus : Volvariella 
Species : V. volvacea 

Reproduksi jamur Basidiomycota umumnya berlangsung secara seksual dengan cara kojungsi untuk membentuk basidiospora. Reproduksi secara aseksual sangat jarang terjadi. Jika ada, umumnya dengan cara membentuk konidia. Proses pembentukan basisidiospora adalah sebagai berikut. Basidiospora merupakan spora yang haploid. Spora ini tumbuh membentuk hifa-hifa yang bersekat. Tiap sekat berinti satu. Hifa ini ada yang bersifat satu “jantan”(+) dan “betina” (-). Jika ujung dua hifa yang bebeda bertemu,akan terjadi percampuran percampuran plasma sel (plasmogami). Inti sel dari hifa (+) akan diberikan ke sel hifa (-) sehingga terbentuk sel hifa dengan dua inti (hifa dikariotik). Sel hifa dengan dua inti ini akan berkembang membentuk miselium yang dikariotik juga. Miselium yang berinti dua ini secara khas tubuh menjadi buah (basidiokarp) yang bentuknya seperti payung, atau bentuk lainnya. Basidiokarp menghasilkan basidium yang terdapat pada lapisan yang disebut himenium. Didalam mimenium terjadi kariogami, yaitu persatuan dua inti menjadi satu. Inti ini,kemudian mengalami pembelahan meiosis unutk membentuk empat spora haploid yang disebut basidiospora. Jadi, basidiospora ini bersifat haploid dan terdapat di ujung basidium. Didalam setiap basidium terdapat empat basidiospora. 

Adapun ciri-ciri umum dari jamur ini antara lain: 

a. Ciri khasnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai
badan penghasil spora. 

b. Kebanyakan anggota spesies berukuran makroskopik. Contoh spesies: 
1. Auricularia polytricha : jamur kuping, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan. 
2. Exobasidium vexans : parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar daun teh atau blister blight. 
3. Amanita muscaria dan Amanita phalloides: jamur beracun, habitat di daerah subtropics. 
4. Ustilago maydis : jamur api, parasit pada jagung. 
5. Puccinia graminis : jamur karat, parasit pada gandum. 

6. Deuteromycotina 

Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif. Contoh Jamur Oncom sebelum diketahui pembiakan generatifnya dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui pembiakan generatifnya yang berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila dimasukkan ke dalam Ascomycotina. 

Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur dari golongan ini, misalnya: Epidermophyton fluocosum penyebab penyakit kaki atlit, Microsporum sp. Dan Trichophyton sp. penyebab penyakit kurap. 

Ada sekitar 25.000 spesies jamur yang dimasukkan dalam divisi Deuteromycota. Jamur Deuteromycota sering disebut juga fungi imperfecti Karena belum diketahui reproduksi seksualnya sehingga reproduksi jamur ini dilakukan secara aseksual dengan membentuk konidia seperti pada jamur Ascomycota. 

Jika anggota jamur Deuteromycota sudah ditemukan secara reproduksi seksualnya, ia dimasukkan kedalam divisi yang berbeda. Sebagai contoh adalah jamur oncom (monilia sitophila). Dahulu, jamur tersebut termasuk dalam divisi Deuteromycota.Namun setelah diketahui bahwa jamur ini dapat membentuk askospora, sekarang jamur tersebut termasuk divisi Ascomycota, dengan nama Neurospora crassa. Contoh lainnya adalah Aspergillus dan penicillium. Beberapa anggota aspergillus dan penicillium ada yang termasuk divisi Deuteromycota, sementara anggota lainnya termasuk divisi Ascomycota. Ciri lain dari Deuteromycota adalah hifanya bersekat. Sebagian besar anggota Deuteromycota bersifat merugikan karena merupakan perasit yang dapat menimbulkan penyakit baik pada manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Contoh anggota Deuteromycota yang merugikan, antara lain Chladosporium penyebab penyakit kulit, Trichophyton dan Epudermophyton penyebab penyakit kulit dan kuku, serta Microsporium penyebab penyakit rambut dan kuku. 

Mikorhiza 

Mikorhiza adalah simbiosis antara jamur dengan tumbuhan tingkat tinggi, jamur yang dari Divisio Zygomycotina, Ascomycotina dan Basidiomycotina. 

Lichenes / Likenes 

Likenes adalah simbiosis antara ganggang dengan jamur, ganggangnya berasal dari ganggang hijau atau ganggang biru, jamurnya berasal dari Ascomycotina atau Basidiomycotina. Likenes tergolong tumbuhan pionir/vegetasi perintis karena mampu hidup di tempat-tempat yang ekstrim. 

Contoh : 
· Usnea dasypoga 
· Parmelia acetabularis

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "KLASIFIKASI JAMUR"

  1. artikelnya menarik dan mudah di pahami,klik juga saya punya artikelartikel tentang kesehatan

    ReplyDelete